Kabut Lalu Lintas

(by Kanisa Putri )

di angkat dari cerita nyata yang terjadi di salah satu desa di kota paris van borneo

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi menuliscerpen ‘Terbib, Aman, dan Selamat bersepeda Motordi Jalan’.#Safetyfirst

#Safetyfirst diselenggarakan oleh yayasan Astra-Honda dan nulisbuku.com

Nafasku mulai sesak, oksigen yang mengalir mulai terbatas. Ku percepat kakiku untuk mengayuh sepeda. Sawah di kiri dan kanan bagian jalan mulai mengering tanahnya dan di selimuti kabut asap pekat. Rasa lelah mulai ku rasakan. Sambil terengah-engah aku mengatur nafasku agar tidak terserang asma di pinggir jalan. Jalan cukup sepi, tak seperti biasa hilir mudik kendaraan bermotor lebih banyak melintas di jalan ini. Angin yang bertiup menerpa wajahku yang tertutup masker. Terasa debu terbawa angin dan menempel di bagian badanku yang terbuka. Sudah sebulan matahari tak pernah bersinar terang, meskipun ada, muncul seperti gerhana matahari. Pagi atau sore suasana kota sama saja, seperti senja yang menanti malam.

Namaku Sabar, seorang petani yang sehari- hari mengarap sawah orang lain. Sebagai buruh upah yang pada saat musim tanam dan panen padi bisa memiliki pekerjaan untuk bisa makan. Selain musim itu, aku pergi ke pasar membantu pedagang sayur untuk mengikat dan membungkus sayuran dalam satuan kecil. Setiap hari aku mendapat upah Rp.15.000,- dan cukup buat kebutuhan sehari-hari bersama kelima anakku yang masih kecil-kecil. Anak sulungku sudah kelas empat SD, kadang dia membantuku bekerja membantu petani menanam padi. Kadang aku dan Zaki pergi menangkap ikan di sungai yang berlumpur lalu di jual kepada tetangga. Itu pun hasil tangkapan ikan kami sisihkan buat makan sepotong ikan saat siang hari.

Tubuhku makin ringkih. Sepeda tetap ku kayuh. Angin deras belum membawa kabar hujan bakal turun. Jalan tol yang baru di bikin pemerintah sudah mulai rusak. Tanah gambut bekas sawah yang di timbun, lalu di aspal, di jadikan jalur jalan lintas propinsi untuk mengangkut bahan tambang dan jalur terdekat bagi warga. Belum genap satu tahun aspal sudah terkoyak dan lubang-lubang besar mulai bertebaran di badan jalan itu. Jarak rumahku sekitar 5 km jika melewati jalan tol ini. Masih cukup dekat jika di bandingkan jalan utama yang seandainya aku lintasi maka jaraknya 12 km.

Nafasku semakin sesak. Perlahan asap mulai menyusup masuk ke dalam balutan maskerku. Kepalaku pusing. Sepeda yang aku kayuh mulai tak stabil berjalan di atas jalan bergelombang karena lubang aspal yang terkikis. Aku paksakan diriku lalu tiba-tiba sebuah cahaya yang menyilaukan datang menghampiriku. Semakin dekat aku sudah tak mampu menjaga keseimbangan tubuhku.

“Brukkk….” Suara sepedaku ambruk di susul badanku yang melayang menghantam aspal. Darah berceceran. Kulit tanganku merasakan cairan bening itu mengalir pada salah satu kakiku. Suara derap kaki menghampiriku.

“Pak, bangun pak!” Asmadi berjongkok memperhatikan kondisi pak tua itu.

“ Ayo kita angkat, darah bapak ini sangat banyak sekali” ucapnya sambil menoleh ke arah temennya.

Asad Akhirnya keluar dari mobil. Dia mulai terbatuk-batuk menghirup asap yang terbawa angin.

Badannya terasa gerah karena asap itu mengandung kadar asam danmenempel di kulitnya. Dia raba tangannya yang lembab seperti kena keringat. Bau asap pembakaran kembali menutuk lobang hidungnya.

“Tidak usah repot-repot, biarin saja, di sini sepi. Lebih baik kita kabur saja” Asad berbicara sambil berkacak pinggang

“ Kita tidak bisa diam saja, kasian bapak ini! Liat, betapa lemah badannya” Jawab Asmad

“Sudahlah, waktu kita terbatas, lebih baik kita teruskan saja perjalanan kita!” Asad merongoh kantong bajunya lalu menyisipka beberapa lembar uang berwarna merah ke saku Pak Sabar.

Pak Sabar masih pingsan. Suara nafasnya yang keluar agak beras. Sepertinya orang itu terlalu lama menghirup asap hingga kena ISPA.

“Ayoo..” Asad sudah duduk di kursi pengemudi

“Tapi…..apa kamu sampai hati membiarkan orang ini di sini? Liat kabut asap itu semakin pekat. Tidak ada banyak orang yang mau berkeliaran keluar rumah, apalagi melalui jalan tol sepi ini, bagaimana jika dia mati dan tak ada yang menolong?”

“Aahh…itu bukan urusan kita, sebelum ada yang melihat , ayo masuk ke mobil! dan kita tinggalkan tempat ini! Cukup kasih uang dan kita pergi. Beres kan?”

Asmadi mengalah dan masuk ke dalam mobil dengan hati dongkol.

****

Mobil avansa putih itu kembali melaju kencang. Dari kaca spion terlihat bayang gelisah pada benak lelaki yag duduk di sebelah temannya yang menyetir. Asmadi berdoa semoga ada orang yang lewat yang mau menolong bapak itu.

Mereka sudah keluar dari wilayah jalan tol. Hari sudah menunjukkan jam 8 pagi. Kondisi kabut perlahan berkurang kepekatannya. Arah pandang ke depan terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Saat lebih tenang karena jalanan tetap sepi. Anak- anak sekolah akan memadati jalanan jam 7 pagi. Begitu juga pekerja PNS yang pergi ke kantor. Pikiran Asad kembali untuk mempercepat jalan mobil. Dia harus tiba di kota tujuannya sebelum jam 2 siang. Jalan utama lebih mulus dengan ketebalan aspal yang hitam legam di hiasi pemandangan pohon- pohon hijau di pinggir jalan yang menghiasi rumah penduduk yang ia lewati.

*****

Asad melajukan mobil lebih kencang dari sebelumnya. Emosinya belum reda. Perjalanan melewati batas propinsi memang sangat melelahkan. Lelaki wajah sangar itu tak sabar jika membiarkan temennya yang menyetir. Sepanjang perjalanan sudah 2 kali mobil berhenti. Ketika melewati jalan tol ini, emosinya menaik. Dua jalur jalan yang membentang dengan median sungai kecil yang sengaja di buat untuk menjadi pembatas kedua jalan itu. Ada beberapa jempatan kayu berwarna kuning yang berbentuk vertikal yang mengarah ke desa sebagai jalan tembus. Salah satu jalur jalan rusak parah. Asad marah karena jalan itu membuatnya harus berputar cukup jauh dengan memotong jalur satunya karena ada yang meletakkan badab pohon kepala di tengah jalan.

“Proyek bernilai ratusan juta bisa melayang jika kita telat meeting hari ini!” ujar Asad tanpa menoleh melihat wajah temennya yang selalu sok mau menolong orang susah.

“Kita seharusnya bertanggung jawab pada bapak itu, kita sudah salah mengambil jalur kiri yang seharusnya bukan hak kita!” Asmadi mulai terpancing emosi melihat kelakuan temennya.

“Seandainya jalur kanan bisa kita gunakan, kita tak mungkin seperti ini”Asad mengisap rokok sambil memutar kemudi mobil. Beberapa kali kendaraan motor memilih mengalah dan membiarkan mobil Asad terus melaju kencang.

“Paling tidak kita antar ke rumah sakit agar dia bisa berobat,”

“Apa kau gila? Mengantar orang tua itu akan semakin bikin kita terlambat,”Mata Asad melotot ke arah teman yang duduk di sebelahnya.

“Nyawa seseorang itu lebih penting!” Sahut Asmadi ketus.

“ Kita kan masih bisa menunda rapat?”Ucap Asmadi lagi.

Pandangan Asmadi menatap jejeran sawah yang dulunya hijau kini berubah coklat karena kekeringan.

“Tinggal kita kasih uang buat berobat beres kan?” Jawab Asad dengan rahang mengeras karena emosi.

“Kita sudah memberi Pak tua itu uang, bukan?”

“Itu tidak cukup, bagaimana jika dia meninggal, sedangkan keluarganya mengandalkannya sebagai tulang punggung keluarga?”

“Cukup, sebaiknya kita tidak membahas ini lagi!Perjalanan kita masih jauh dan aku butuh konsentrasi menyetir”.

Asad membanting stir karena terkejut dengan peristiwa kedua yang harus di hadapinya.

“Awasss…”Asmadi berteriak kencang. Tangan Asmadi menunjuk sebuah truk dengan kecepatan besar melintas berbeda arah dengan mereka. Dan pada saat yang sama kecelakaan terjadi.

Asad saat itu menyalip salah satu truk yang berdiam di pinggir jalan sedangkan dari arah berbeda dua remaja melintas kencang tanpa memperhatikan truk yang di salip Asad dari arah yang berlawanan. Kabut asap yang terhirup lama bisa menurunkan daya konsentrasi para pengendara di jalanan. Jarak pandang hanya sepanjang 3 meter saja.

Dua remaja yang ngebut itu menabrak truk yang diam itu. Motornya penyok dan terlempar ke tengah jalan aspal. Salah satu korban dalam posisi tengkurap, memakai celana jeans baju pendek yang tersingkap dan darah mengalir seperti aliran sungai kecil di dekat kepalanya. Satunya lagi terlempar cukup jauh pada gundukan tanah dekat parit sawah yang tak ada airnya. Kepala gadis itu masih memakai helm. Kaca depannya pecah dan aliran nafasnya masih hangat. .

Asad bersyukur mobilnya selamat. Lewat kaca spion Asad melihat korban tabrak itu. Ada seorang wanita menyebrang dan memperbaiki baju gadis itu yang tersingkap. Nafas gadis itu sudah lenyap.

Asad teringat kepada putrinya yang masih SMK. Dia tergugah untuk melihat kejadian itu lebih dekat. Asad berlari keluar dari mobil, di susul Asmadi yang mengejar langkah temannya.

Beberapa warga datang. Salah satu pria yang ada di sana mengangkat korban yang masih pakai helm. Tak satu pun mobil lewat. Hanya beberapa buah pengendara motor yang ikut menyaksikan kejadian itu.

“Pak, bantu kami mengantar ke rumah sakit terdekat,”

“Tapi…kami buru-buru Pak.”ucap Asad dengan muka masih memucat.

Lelaki itu berhasil memaksa Asad untuk pergi mengantar korban. Sampai di rumah sakit kedua anak remaja itu segera di tanggani.

Gadis yang kepalanya terkena benturan keras sesampai di rumah sakit sudah meninggal. Sedangkan yang berhelm sempat bangun melihat temannya lalu pingsan. Tulang-tulangnya banyak yang retak dan mengalami koma. Dengan selang infus dan oksigen tanpa kesadaran dan terus tidur. Sebulan mengalami masa koma, kemudian dia meninggal menyusul temennya. Saat gadis berhelm itu sadar selama tiga hari, dia terus menangisi kematian temannya. Mereka teman akrab sejak SD. Temannya itu tidak memakai helm saat menyetir motor miliknya.

Mereka siswi SMK yang menunggu kelulusan ujian nasional dalam minggu itu.Warga mengenalinya karena sering ngebut-ngebutan di daerah sekitar desa.

*****

Asad Pamit setelah mengantar kedua korban itu. Pikirannya kacau dan Asmadi mengambil alih kemudi mobil. Mereka meninggalkan kota itu dengan perasaan bersalah dan gelisah.

Rasa kemanusiaan mereka tergugah melihat kejadian itu. Meskipun pengendara itu menabrak truk yang diam dalam kecepatan tinggi, namun saat kejadian Asad menyalip truk itu dan di depannya ada truk yang berlainan arah. Dua gadis itu saat menghindar truk di sebelah kanan jalan dia menabrak truk yang berdiam di kiri jalan.

Asad kembali teringat Pak tua yang di tabraknya. Penyesalan akhirnya menghampiri bathinnya. Pak tua itu dia tinggalkan dalam kondisi pingsan dan luka di pinggir jalan. Semoga bapak itu tidak meninggal dan cepat di temukan orang yang lewat, doa Asad dalam hati. Matanyamulai mengantuk dan akhirnya dia tertidur nyenyak.

Asmadi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Saat jalan sepi dia menambah kecepatan lalu menurunkannya jika ada banyak orang. Asmadi memiliki karakter yang lebih sabar daripada Asad. Sejak lima tahun lalu mereka selalu terlibat dalam proyek kerja bersama-sama.

Asmadi sangat menyayangkan terjadinya kecelakaan itu. Namun kecelakaan kedua bukan salah temannya.

****

Pak Sabar di temukan oleh penjual sayur yang lewat di jalan tol itu. Kondisi ringkih, darah yang mengalir, wajah pucat pasi dalam posisi mengarah ke kanan di pinggir jalan. Saleh sebagai pedagang sayur menolong Pak sabar dengan memanggil beberapa temannya yang lewat. Mereka membawa Pak Sabar ke rumahnya.

“ Suami saya kenapa, Pak Saleh?” Bu sabar menangis sambil menyonsong kedatangan suaminya yang di angkat turun dari mobil.

“Saya temukan beliau di jalan,” Sahut Pak Saleh merebahkan temannya di kasur yang sudah di sediakan Bu Sabar.

Dokter datang dan memeriksa Pak Sabar. Beberapa warga mulai berdatangan karena penasaran.

“Kita harus membawa Pak Sabar ke rumah sakit,”Ucap Dokter setelah selesai memeriksa kondisi orang itu.

“Beliau kehilangan banyak darah, kapan kejadiannya, Bu? “

“Pak Sabar sudah dalam kondisi tidak sadar saat kami temukan, mungkin sekitar satu jam yang lalu setelah bertemu kami tadi di pasar”

Pak Sabar di bawa ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan bahwa Pak Sabar harus menjalani perawatan sampai sadar. Seminggu berikutnya Pak Sabar siuman dalam kondisi lumpuh. Beliau tidak bisa berbicara. Mata beliau seakan kehilangan fokus, anak-anak dan istrinya sudah tidak menangis lagi. Sisa mata bengkak, mereka terus berjuang hidup dalam kesulitan ekonomi. Pak Sabar sebagai tulang punggung keluarga sudah tak mampu lagi bekerja untuk keluarganya. Warga desa Babai bergantian berdatangan menjenguk dan memberi bantuan baik makanan maupun biaya rumah sakit.

****

Pak RT desa babai membawa amplop tebal di tangannya. Hari ini ia pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Pak Sabar. Jalan desa sudah mulai ramai dengan beberapa orang yang lewat memakai sepeda dan motor. Anak- anak SMA kebanyakan memakai motor agar tidak terlambat ke sekolah.

Pak Rt mulai menstarter motor Hondanya, sudah puluhan tahun masih awet dan nyaman di gunakan untuk beraktifitas. Dia selalu merawat dan mencek kondisi motornya sebelum berangkat ke tujuan.

“Pak RT, mau kemana, Pak?” Tanya seorang warga yang datang tergopoh-gopoh ke rumah pak RT.

“Ada apa, Pak? Keliatannya penting sekali.” Pak RT menghentikan kegiatannya mengamati detail sepeda motornya.

“Saya baru terima kabar, bahwa anaknya Pak Saleh juga menjadi korban kecelakaan di sekitar jalan tol bersamaan dengan kejadian yang menimpa pak Sabar.”

“Oh ya, terus bagaimana kondisinya, apa di bawa ke rumah sakit juga?”

“ Anaknya Pak saleh meninggal dalam kondisi tulang dada retak dan beberapa organ dalam yang rusak parah. Saat mengendarai motor Siti tidak memakai helm. Sedangkan Desi duduk di belakang motor memakai helm. Mereka ngebut dan menyalip truk yang diam, pada saat itu di depannya ada mobil avansa yang juga dalam kecepatan tinggi. Tak tabrakan tidak bisa di hindari karena di depannya juga melintas truk dari arah yang berlawanan, sekarang Siti sudah meninggal dunia saat di bawa ke rumah sakit. Dan Desi baru siuman tadi pagi.”

“Innalillahi wa inna ilayhi rojiun, kasian yaa. Padahal minggu depan pengumuman kelulusan mereka sekolah SMK. Pak Saleh pasti sangat sedih saat tau anak satu-satunya meninggal tragis begitu.”

“Ya, mau gimana lagi pak! Mungkin sudah takdir meninggal begitu.”

“Ini bukan perkara takdir, selama manusia bisa mengusahakan dalam wilayahnya untuk menjaga diri dan keamanan. Kelalaian saat berlalu lintas tidak memakai helm, kondisi motor yang kurang di perhatikan semisal rem yang blong atau perkara teknis lainnya masih bisa kita usahakan untuk menjaga agar tidak menjadi korban atau ada yang celaka gara- gara kita”

“Iya, pak RT benar. Kadang kita menjadi pengguna jalan yang semena-mena. Kadang kita tidak sabar untuk memberi orang lain ruang untuk mendahulukan mereka yang bisa jadi dalam kondisi mendesak untuk sampai kepada tujuannya. Karena ego kita untuk menguasai jalan, apalagi saat kita naik motor lebih mudah menyalip truk,, mobil atau orang-orang yang lewat di jalan.”

“ Iya, benar sekali pak. Kita perlu menyadarkan ana-anak kita yang labil emosinya untuk menjadi pengguna jalan yang bijak dan menghargai setiap nyawa yang bisa terancam kecelakaan maut kapan saja. Apalagi kondisi kabut begini, konsentrasi menurun. Orang-orang mau cepat terburu-buru ingin sampai ke rumahnya. Jika kita kurang konsentrasi di jalan, bisa sangat bahaya.”

“Benar , Ayo pak kita sama-sama kerumah sakit menjenguk Desi dan pak Sabar.”

Telpon berbunyi.

“Halo, iyaa..apa? innalillahi”

“ Ada apa pak, siapa yang meninggal?’ tanya pak RT

“Desi meninggal, saat siuaman dia menangis dan terus-menerus memanggil nama Siti. Baru saja Bu saleh meminta mengabari suaminya di rumah karena HP di bawa istrinya ke rumah sakit”

“ Kalau begitu, kita kerumah pak Saleh dulu baru ke rumah sakit.” Pak RT menaiki motornya berdua menuju rumah pak Saleh.

****.

Berhati-hati di jalan dan jadilah pengendara yang bijak dan taati peraturan lalu lintas. Sayangi nyawa anda dan orang-orang terkasih anda!nyawa tak bisa di tukar dengan uang

Iklan