Saat jalan tertutup asap kabut. kami tetap rajin pergi ke sekolah. memakai masker, saat naik sepeda atau saat belajar di kelas. Nafas kami sesak. separo teman kami di kelas sudah sulit mengatur nafas. asap terasa aroma menyengat daun kering yang terbakar. Kabut juga menyelimuti pohon-pohon kami yang tersisa. satu-satunya hutan pelindung kami di pegunungan meratus sudah di incar kekayaan alamnya untuk di eksploitasi.

Kami tak bisa diam tanpa bergerak. Ribuan pohon sudah lenyap akibat ulah perusahaan asing dan orang2 yang mungkin tak sengaja membakar hutan. Kami butuh solusi, mengharap pemerintah mengembangkan teknologi pengusir asap. kalau perlu menyewa para expert ilmuan dari luar negeri untuk membuat alat atau sesuatu untuk mengusir asap pengap ini. Tapi penyebab hutan terbakar juga harus di tindak jika itu memang sengaja, jangan jual tanah negeri untuk kepentingan yang menyengsarakan rakyat. tolak perusahaan asing yang ingin mengeksploitasi hutan kami. karena dunia butuh hutan kalimantan sebagai paru-paru dunia.

Kami tak hanya butuh bantuan masker, uang atau makanan. tapi solusi dari pemerintah, ketegasan penguasa untuk menindak tegas orang2 perusak hutan dan alam. hukum mereka seberat-beratnya. Kami butuh negara yang berani tidak mengijinkan perusahaan asing membakar lahan kami. kami butuh negara yang bisa melindungi kami dan menjaga kesejahteraan kami.
.
‪#‎hukum‬ mana yang lebih baik, hukum Allah dari manusia??
‪#‎back‬ to syariah and khilafah

Iklan